Not Him

Title : Not Him
Author : Park Min Jung

~~~~~~PMJ~~~~~~

“aku melihatmu bersama Min Ah tadi”
“aku menemaninya makan siang”
bagaikan di tindih oleh ribuan batu, hati ini seakan remuk rasanya. Bahkan hancur saat mendengar ucapan yang mulus keluar dari mulutnya. Aku tau ini bukan yang pertama, tapi sudah beberapa puluh kali dia melakukannya di hadapanku tepat di kedua bola mataku. Apa dia tidak menyadari akulah yang seharusnya dia temani, akulah yang harus dia cintai, dan akulah yang berhak mendapatkan kasih sayang darinya, bukan wanita yang bernama Shin Min Ah itu.
Aku benar – benar sudah tidak tahan lagi dengan sifatnya yang cuek, bahkan terlalu cuek terhadapku yang notabene adalah TUNANGANNYA. Awalnya aku menerima sifatnya dengan berharap ‘mungkin sifatnya akan berubah seiring berjalannya waktu’ tapi apa yang ku dapat ?? NIHIL, dia tetap bersikap cuek dan dingin kepadaku. Bahkan menatap mataku saat berbicara berduapun tidak pernah.

~~~~~~PMJ~~~~~~

“kau seharusnya marah padanya, kau adalah tunangannya bukan wanita abal – abal itu” selalu saja mendapat omelan kalau aku menceritakan kepada Min Jung tentang masalah kemarin, ya memang dialah tempat sampah(?) masalahku. Aku tau Min Jung begitu karna dia sangat sayang dan mengkhawatirkan aku. “aku tak mau dengar kau membelanya, ayolah Hye Ra ini sudah keterlaluan, ini tidak bisa di diamkan terus” seakan tau jalan fikiranku, dia menghela perkataanku. Dia tau aku pasti membelanya, ya membela namja yang ku cintai sampai kapanpun. “kau ini, aku mohon Hye Ra, tinggalkan dia. Aku tidak mau melihatmu menangis lagi karna namja brengsek itu” “dia tidak brengsek Min Jung~ah” “terus, terus saja kau bela dia. Apa kau tidak tau, kau seperti pajangan baginya. Pajangan yang tak penting untuk di lihat”
Deg… Perkataan Min Jung tadi benar – benar membuat hatiku nyeri. Apa benar aku ini pajangan untuknya?? Pajangan yang tak penting bahkan untuk di lihat sekalipun. Tapi kenapa ?? Kalau aku ini adalah sebuah ‘pajangan’ kenapa dia menerima perjodohan ini, kenapa dia seakan memberiku secercah cahaya yang aku harapkan. Cahaya yang akan menuntunku kepada hatinya, tapi ternyata apa yang ku dapatkan ??? Cahaya kosong harapan semu.

Tak terasa aku menangis lagi, menangis dalam pelukan Min Jung. Entah sudah berapa puluh ribu air mata yang aku keluarkan karnanya, menangis karna seseorang yang bahkan tidak akan pernah mungkin menghapus air mataku ini.
Untung saja kantin kampus sepi pada sore hari, hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol.
“sudah, lebih baik kau pulang ke rumahku. Aku tidak mau kau pulang ke rumah terkutuk itu” Min Jung mengusap rambutku. Aku menggelengkan kepalaku dan menghapus air mata yang tersisa(?) di kedua pipiku “tak apa, aku akan pulang saja” aku tersenyum ke arahnya, sebenarnya bukan tersenyum melainkan BERUSAHA tersenyum di hadapannya. Ku lihat mimik muka Min Jung berubah seakan ingin protes dengan keputusanku, “tenang aku takan melakukan hal – hal yang bodoh Min Jung~ah, aku akan langsung tidur tanpa menunggunya pulang lagi” aku buru – buru menghela protesnya yang akan dia lontarkan, aku menatapnya dengan tatapan ‘aku akan baik – baik saja percayalah’. “kau yakin ?? Ya sudah aku antar kau kerumah” ajaknya, aku mengangguk pasti. Aku tak ingin melihatnya khawatir lagi.

Dalam perjalanan aku dan Min Jung benar – benar diam, aku melihat keluar jendela sedangkan Min Jung fokus membawa mobilnya ke rumahku bersama namja itu.
“ingat jangan sampai aku melihatmu menangis lagi, kalo aku melihatmu menangis aku akan membunuhnya” aku terkekeh mendengar ucapannya dan mengangguk “kau tidak akan masuk dulu??” tanyaku saat ku lihat dia masih asik duduk di dalam mobilnya “tidak, aku tak mau bertemu dengan namja brengsek itu” “tenang saja dia pasti belum pulang” bujukku “tidak terima kasih Hye Ra lain kali saja” dia menggelengkan kepalanya “baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan, dan terimakasih karna sudah mengantar ku” “mmm, ya sudah aku pulang dulu, kau ingat dengan kata-katamu, jangan tunggu dia sampai malam” ucapnya sambil menjalankan mobilnya menjauh dariku.
Aku menatap rumah bercat putih itu dengan tatapan lelah, aku masuk setelah melihat mobil Min Jung menghilang(?) di belokan. Aku memasuki rumah itu dan melihat mobilnya sudah tersimpan rapih di garasi, tumben sekali dia sudah pulang bahkan ini masih jam 3 sore. Aku membuka pintu kayu bercat coklat tua yang berdiri sempurna, sepi dia di mana ?? Aku menaiki tangga mencarinya, mungkin dia ada di kamarnya. Saat sudah berada di depan pintu kamarnya, entah mengapa hati ini menolak untuk membukanya, membuka pintu yang ada di hadapanku. Tapi tetap saja tanganku memegang gagang pintu itu dan ketika aku membuka pintu itu benar saja, benar apa yang kata hatiku ucapkan!!! ya aku melihatnya sedang berciuman dengan wanita itu Shin Min Ah.
Tubuhku rasanya kaku, hati ini, mata ini enggan melihat pemandangan itu, tapi mengapa tubuh ini tidak bisa bergerak satu sentipun. Tak terasa aku menangis lagi, ya aku menangis karna dia lagi. Menangis karna kebodohanku, Min Ah melihatku dan dia langsung melepaskan tautan bibirnya dengan namja itu. aku melemparkan senyuman pahit ke arahnya “Min Ah-ya we??” aku mendengarnya, mendengar suaranya yang berbeda apabila dia berbicara denganku. Min Ah mengangkat dagunya menunjuk ke arahku yang berdiri tegap di ambang pintu dan tak lama dia pun melihat ke arahku. Aku melihatnya, melihat tepat di kedua bola matanya, entahlah matanya tak dapat aku artikan entah dia terkejut karna kehadiranku atau mungkin dia sangat terganggu karna mengganggu ‘pekerjaannya’. “maaf aku mengganggu kalian” akhirnya setelah sekian lama aku terdiam aku akhirnya mengeluarkan suaraku, suara parau, suara yang sangat menyedihkan. Aku keluar dan menutup pintu kamarnya, aku tersenyum getir dan rasanya lututku benar – benar lemas, aku berjalan menuruni tangga dengar air mata yang sudah membanjiri pipiku. Suaranya berbeda jika dia berbicaraku, suaranya terasa sangat hangat dan sarat akan kasih sayang berbeda denganku suaranya begitu dingin dan menusuk ke hati. aku terduduk di antara anak tangga rumahku, aku menangis mengingat kejadian tadi. Benar apa kata Min Jung aku ini hanya pajangan baginya, pajangan yang bahkan tidak pernah dia lihat apa lagi dia sentuh, benar-benar miris sekali nasibmu Kang Hye Ra. Jadi untuk apa kau setiap hari menunggunya pulang hingga tengah malam kalau nyatanya dia tidak menganggapmu ada. untuk apa aku bermimpi akan bahagia dengannya, hidup bersamanya mencintai seseorang yang bahkan tidak akan pernah mencintai diriku. ini mungkin jalan yang terbaik bagiku, aku tidak mau hidup dengan air mata yang terus mengalir hanya karna menunggunya untuk mencintaiku. Aku akan meninggalkannya, meninggalkan semua impian indahku bersamanya, impian yang aku kira akan terwujud bersamamu Cho Kyuhyun.