IN HEAVEN

 

 

 

Gambar

 

 

 

IN HEAVEN

 

18 Agustus 2011

 

Namja itu terus memberikan penjelasan tentang proyek ciptaannya dan tim kerjanya, dia sekilas melihat I-Phone putihnya bergetar di atas meja presentasinya “Kim Hae In” nama itu terpampang jelas. Dia mengabaikannya dan terus mempresentasikan proyeknya tanpa tau sesuatu telah terjadi pada yeoja bernama Kim Hae In tersebut.

Semua orang bertepuk tangan saat namja itu selesai dengan presentasinya, mereka menyukai program rancangannya dan siap membantu untuk mengembangkan programnya. Dia membungkuk mengucapkan terima kasih kepada semua yang ada di dalam ruangan itu.

“hyung ada telpon untukmu” rekan kerjanya memanggil dan dia segera keluar dari ruang rapat yang sudah sepi “nugu?” tanyanya pada orang yang memberitahunya tadi “molla tapi sepertinya dari rumah sakit” namja itu mengerutkan keningnya dan segera menjawab telponnya “yoboseyo??” “apakan benar ini tuan Lee Dong Hae?” Tanya seseorang dari telpon itu, namja bernama Lee Dong Hae itu menganggukan kepalanya dan berkata “ya, saya Lee Dong Hae. Musun iriya?” “apa anda kenal dengan Agashi bernama Kim Hae In ??” tanyanya lagi “ya, saya mengenalnya…” “dia mengalami kecelakaan lalu lintas, dia tertabrak mobil dan meninggal seketika” belum selesai Donghae berbicara, dia sudah di kagetkan tentang kematian seseorang yang sudah hampir 3 tahun ini memenuhi pikirannya.

 

‘I’m going to leave now’

‘don’t leave’

‘I’m going to comeback so…’

‘liar liar’

‘no, don’t you know how much I love you’

‘can’t you show that love to me right now?’

‘I Love You’

‘can’t we love me again’

 

6 Juni 2012

 

Namja itu terbangun dari tidurnya, peluh mengucur dari keningnya, wajahnya trlihat sangat pucat. Donghae mengedarkan penglihatannya ke seluruh penjuru kamar yang bernuansa putih itu, wajahnya menunjukan bahwa dia benar-benar merindukan seseorang yang sudah pergi meninggalkannya. Donghae berjalan kaluar kamarnya mengambil botol air mineral di lemari pendinginnya, meminumnya dengan sekali teguk.

Donghae mengunci rumah kecilnya dan segera pergi menuju kantornya, setidaknya dia masih mempunyai tanggung jawab dengan program rancangannya agar sukses di pasaran.

“hyung berkas-berkas yang kau minta sudah aku simpan di meja” seorang namja berbicara sesaat sebelum Donghae masuk ke ruangan kerjanya “ne, gumawo” Donghae memasuki ruangannya, bersantai sebentar sebelum dia membaca dan melihat lihat laporan yang berada di mejanya tersebut.

Tak terasa jam sudah memnunjukan waktu makan siang, Donghae masih anteng(?) dengan berkas-berkasnya sampai seeorang mengetuk pintu ruang kerjanya  

TOK TOK TOK

“masuk” perintah Donghae dan tak lama seorang namja memasuki ruangannya “oh Kibum-ah waeyo?” Tanya Donghae saat melihat siapa orang yang tadi mengetuk pintu ruangannya dan kembali meneruskan pekerjaannya “anio, aku hanya mau mengingatkan mu sekarang kita ada rapat kecil dengan yang lain sekalian kita makan siang, hyung tidak lapar(?)” seakan tersadar Donghae menghentikan pekerjaannya dan tersenyum pada namja yang ada di hadapannya sekarang –Kibum- “ah aku lupa, baiklah aku membereskan ini dulu” Donghae membereskan kertas-kertas kerjanya “ya sudah aku tunggu di kantin hyung” Donghae hanya mengangguk mengiyakan jawabannya, Kibum keluar dari ruangan Donghae.

Donghae membereskar berkas-berkas yang sudah di pelajarinya dan memasukannya ke dalam laci meja kantornya, saat dia membuka laci mejanya dia melihat Fotonya bersama Kim Hae In dengan bingkai hitam “bogoshipeo Hae in-ah” Donghae mengambil foto tersebut dan mengusapnya, dia menyimpan foto tersebut di atas meja kerjanya. Sedikit tersenyum saat mengingat pengambilan foto itu di rumahnya ketika liburan musim dingin 2 tahun yang lalu. Jika dia tidak ingat tantang rapat dengan tim kerjanya mungkin dia akan lebih lama memandang foto tersebut dan mengingat kenangan-kenangan indah bersama Kim Hae In yeojachingunya.

Sedikit berlari Donghae keluar dari ruangannya dan segera menuju kantin kantor, di sana sudah terlihat tim kerjanya yang menunggunya. Donghae menghampir mereka “mianhae aku terlambat” donghae membungkukkan badannya sebelum duduk di sebelah Kibum.

Donghae dan tim kerjanya menghabiskan waktu di kantin, membicarakan program rancangan mereka, gelak tawa tak terlupakan rapat ini tidak terlalu formal ini lebih tepat di sebut sebagai diskusi.

 

10 Juni 2012

 

Donghae menghabiskan waktu akhir pekannya dengan berjalan – jalan di daerah rumahnya. Waktu seperti ini sangat jarang dia dapatkan mengingat akhir-akhir ini dia selalu sibuk dengan program rancangannya. Dia berbelok memasuki supermarket kecil untuk membeli air mineral sebelum melanjutkan kegiatannya. Dia menghampiri kasir untuk membayar air mineralnya, saat akan membayar air mineralnya, dia melihat anak kecil yang sepertinya menginginkan permen yang sedari tadi anak kecil itu lihat. Donghae mengambil permen itu dan memberikannya kepada anak kecil tadi setelah dia membayarnya. Donghae mengelus rambut anak kecil itu dan tersenyum, Donghae keluar dari supermarket itu dan duduk di kursi yang tersedia di depan supermarket itu. 

“ahjusi!!” Donghae melirik ke arah anak kecil yang tadi memanggilnya, ternyata anak kecil tadi, Donghae membenarkan duduknya menghadap anak kecil yang berdiri di samping kirinya  “Jika kau bisa kembali ke masa lalu, apa hal-hal yang paling ingin kau lakukan?” Donghae mengerutkan keningnya dan tiba-tiba bayangan senyuman Hae In bertebaran(?) di fikirannya, dia tersenyum mengingat senyuman Hae In yang sangat ia rindukan “itu, aku tak mau menghancurkan segalanya, menghancurkan sosok yang berharga bagiku. Ada begitu banyak hal yang aku ingin katan padanya” Donghae tersenyum pahit ketika mengingat kematian Hae In “hey bocah, mengapa kau bertanya seperti itu pada…” Donghae menghentikan ucapannya saat dia tidak melihat anak kecil tadi yang berada di sampingnya, Donghae berdiri dari duduknya melihat sekitar anak kecil itu sudah tidak ada.

 

 

KRINGGGGGGGG~~~

Donghae menggeliat mendengar alarem jamnya berbunyi, Donghae mematikan alarem yang berada di atas laci tempat tidurnya.  

Dia berjalan mengambil air mineral di dalam lemari pendingin yang tanpa sadar sudah banyak di penuhi foto-foto dirinya bersama Hae In,

TING TONG

Bel rumah berbunyi Donghae menghentikan tegukannya, melihat kearah pintu rumahnya. Donghae segera memakai jaket abunya dan segera membuka pintu rumahnya, dia sedikit menggerutu pasalnya ini masih jam 8 pagi siapa yang mengunjunginya sepagi ini. Donghae mebuka pintunya dan seketika senyumannya untuk menyambut tamu tersebut hilang di gantikan oleh ekspresi wajah terkejut dan tidak percaya. Donghae membulatkan matanya manakala tamunya tersebut tersenyum ke arahnya, merasa senyumannya tak di balas yeoja itu mengerucutkan bibirnya kesal karna namjachingunya tidak membalas senyumannya. Yeoja itu masuk tanpa permisi menubruk Donghae yang masih mematung di depan pintu, dia langsung menuju dapur dan meletakan belanjaan yang dia bawa di atas meja pantry, Donghae mengikutinya dan masih menatap HOROR pada seseorang yang berada di hadapannya, Donghae melihat dari atas sampai bawah kaki yeoja itu. Ya bagai mana tidak yeoja yang ada di hadapannya ini adalah Kim Hae In yeojachingunya yang 8 bulan yang lalu meninggal dunia dan sekarang ada di hadapannya “ahh wae, apa aku ini seperti hantu??” Hae In memanyunkan bibirnya melihat Donghae yang masih melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan “kauuu…” “kau tidak menyembunyikan seorang yeoja kan di sini” Hae In mengedarkan pandangannya dan tersenyum kecil, dia tau Donghae tidak akan berbuat itu dan meneruskan pekerjaannya(?) menyiapkan sarapan. Berbeda dengan Donghae yang masih belum percaya, dia melihat sekeliling rumahnya, aneh semua barang-barang tentang Hae In yang dia simpan ke dalam gudang kini sudah tersusun rapih di tempatnya semula, lukisan-lukisan Hae In bahkan foto-foto mereka yang sudah di simpan baik-baik olehnya pun terpampang rapih. Dia melihat kalender yang berada di atas lemari pendinginnya, aneh di kelender itu menunjukan bulan Agustus 2011. Dia melirik kea rah Hae In yang anteng dengan belanjaannya, tersenyum senang dan segera memeluk Hae In “yak oppa kau menghalangi pekerjaanku” pekik Hae In. Donghae masih tidak percaya dengan keadaan ini dia memeluk Hae In erat, dia tak ingin melepaskan pelukannya dia tidak memperdulikan pukulan-pukulan kecil dari Hae In agar melepaskan pelukannya. Donghae melepaskan pelukannya, sebenarnya tidak melepaskan karna tangn Donghae masih melekat di pinggang Hae In “benarkah ini kau Hae In-ah” Donghae menatap lekat mata Hae In, dan Hae In membalasnya dengan anggukan kepala. Merasa cukup mendapatkan jawaban dari Hae In, Donghae segera memeluk Hae In dan mengecup bibir tipis milik Hae In.

 

Hari ini Hae In mengajak Donghae bersepedah di sekitar sungai han, Hae In mengenakan dress putih selutut dan topi coklat yang menambah kesan manis pada dirinya. Dia sengaja datang lebih awal dan merasakan hembusan angin sore yang menyapa wajahnya dengan lembut. “Hae In-ah~” Hae In membuka matanya melihat ke arah Donghae. Hae In tersenyum melihat Donghae menghampirinya tapi seketika senyumannya memudar ketika melihat Donghae yang mengenakkan pakaian yang menurutnya ‘aneh’. Merasa di perhatikan Donghaemengerutkan keningnya “waeyo??” Donghae menghampiri Hae In “mengapa memakai baju seperti itu??” Hae In menunjuk baju yang di kenakan Donghae “we?? Kau mengajak bersepedah kan? Ya sudah aku mengenakan baju ini” jawab Donghae polos “kau yang aneh mengapa bersepedah memakai dress putih??” Tanya balik Donghae saat melihat pakaian yang di kenakkan Hae In “kita akan bersebepah santai bukan balapan sepedah” jawab Hae In dengan nada tinggi. Dia mengerucutkan bibirnya kesal karna donghae berpakaian seperti pembalap sepedah, kumplit dengan sarung tangannya. Donghae merasa bersalah dan membujuk Hae In agar memaafkannya. Dan akhirnya merekapun bersepedah setelah Donghae membujuk Hae In, mereka bersepedah megelilingi sungai han di sore hari gelak tawa pun tak terhindarkan meskipun mereka berada di sepedah yang berbeda.

 

Hae In hampir mati bosan, sudah lebih 11 gelas air putih yang ia teguk untuk menunggu Donghae. Jika dia tidak ingat bahwa yang menyuruhnya begini adalah Donghae dia pasti sudah meninggalkannya dari tadi.

Donghae memasuki restoran tempat dia dan Hae In janjian(?). Donghae mengedarkan pandangannya dan melihat yeojachingunya duduk membelakanginya. Hae In mengenakan dress hitam atas lutut dengan lengan pendek itu terlihat manis di mata Donghae. Donghae menghampiri Hae In perlahan, dan dengan santainya dia duduk di hadapan Hae In yang menunjukan wajah sebal. Donghae tersenyum melihat wajah Hae In dan segera memanggil pelayan. Donghae memesan makanan kesukaan Hae In dan itu sukses membuat Hae In tersenyum meskipun hanya sesaat. Tak lama music terdengar dari arah belakang Hae In. Hae In terkaget dan melihat ke arah belakang, dan tersenyum saat melihat pembawa gitar, biola dan terompet menyanyikan lagu kesukaannya “Boys 2 Man – I’ll Make Love To You” dan tak di sangka Donghae sudah Berlutut di hadapannya dan menyematkan cincin di jari manis Hae In. Hae In menatap cincin putih yang sudah bertengger manis di jarinya. Dia tersenyum dan segera memeluk Donghae.

 

Malam ini Hae In mengajak Donghae berbelanja, dia ingin sekali memasak bulgogi dan nasi kimchi kesukaannya. Dan mau tidak mau Donghae menemaninya.

Donghae mendorong troli yang penuh dengan bahan-bahan masakan dan beberapa cemilan kesukaannya dan Hae In. donghae berhenti mendorong troli ketika I-Phonenya bergetar, dia mengangkat telphonenya, sementara Hae In menghampiri kedai yang menyediakan bulgogi siap saji, “ahjumma boleh aku mencicipi ini?” Tanya Hae In “ne silahkan agashi” ucap ahjumma penjaga stand itu dan memotong motong bulgogi tersebut “hmmm mashita” Hae In berucap dengan mulut penuh dan mengacungkan jempolnya pada ahjumma tersebut. “oppa palli” Hae In sedikit berteriak memanggil Donghae yang berada jauh darinya. Donghae menutup telphonenya dan segera mendorong trolinya menghampiri Hae In yang berada di stand makanan “oppa coba ini” Hae In memberikan potongan bolgogi itu kepada Donghae, Donghae memakan Bulgogi itu dan mengacungkan kedua jempolnya tanda dia menyukainya “kalian pengantin baru yang serasi” ahjumma penjaga stan itu berucap dan dibalas dengan senyuman oleh Donghae dan Hae In. mereka meninggalkan stand itu dan melanjutkan berbelanja “haaaaa kepiting” pekik Hae In saat melihat tumpukan kepiting. Donghae hanya menggelengkan kepalanya melihat Hae In yang sudah berada di depan tumpukan(?) kepiting-kepiting yang masih bergerak gerak.

Donghae membelokan trolinya menuju Hae In

“Annyeong~” seseorang berdiri di pinggir Donghae dan menyapanya, ternyata dia adalah anak kecil yang Donghae lihat waktu di supermarket “oh kau~” pekik Donghae saat melihat anak kecil tersebut “senang melihatmu bahagia, yeojachingu mu pun terlihat bahagia. Kamu baik juga memanfaatkan waktu berharga mu yang kembai ke masa lalu” anak kecil itu melihat ke arah Hae In yang sedang asik memilih kepiting “apa maksudmu??” Tanya Donghae mengerutkan keningnya tak mengerti “masa lalu tidak akan bisa mengubah masa depan, jangan lupa” Donghae melihat kearah Hae In, dia tak mau kehilangan Hae In di saat seperti ini. Hae In melihat kea rah Donghae dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rapih.

 

Hae In masih bergelut dengan kanvas dan koas yang berada di tangannya, dia melukis Donghae dan sesekali tersenyum saat membayangkan kebersamaannya bersama namja yang sudah hampir 3 tahun mengisi hatinya. Dia memandang sekilas lukisannya dengan earphone melekat di telinganya. Sebersit ide melewatinya(?) dia akan membawa lukisan itu pada Donghae.

 

Hari ini Donghae dan rekan tim kerjanya akan mempreentasikan program rancangannya. Tapi, Donghae masih bingung mendengar perkataan anak kecil kemarin. Dia membuka buku note keclnya berniat menghilangkan pikirannya tentang perkataan anak kecil kemarin. Dia melihat kalender mecocokan jadwal-jadwal yang akan dia kerjakan tapi tatapannya tertuju pada tanggal ini di sana tertulis ‘kematian Hae In’ seketika dia teringat akan perkataan anak kecil yang kemarin. Dan tiba-tiba saja wajahnya berubah pucat, tidak dia tidak mau kehilangan kekasihnya dia masih merindukan kekasihnya Hae In.

 

Hae In melangkahkan kakinya memasuki rumah Donghae, dia menyimpan lukisannya di atas meja, saat hendak membuka lukisannya itu Hae In melihat bunga yang berada di atas meja itu mati. Dia meletakan lukisan dan I-Phonenya dan segera mengambil bunga itu “kasihan sekali” Hae In melihat semua bunga yang berada di pot kecil itu mati semua. “aku akan menggantikannya dengan yang baru” Hae In tersenyum mengambil tasnya dan keluar untuk membeli bunga.

 

Donghae terus menghubungi handphone Hae In dan tidak pernah di angkat oleh Hae In “Hae In-ah kau di mana, cepat angkat telponnya” Donghae berbisik pada dirinya sendiri dan terus menghubungi Hae In “hyung sekarang waktunya” ucap seseorang menghentikan kegiatannya, Donghae hanya menganggukan kepalanya dan menyinpan I-Phone nya kedalam saku jasnya.

 

Semua orang yang di undang dalam rapat ini pun satu persatu masuk ke dalam ruangan ini. Rapatpun di mulai tetapi dari tadi Donghae hanya terdiam tak berucap satu katapun dia masih memikirkan Hae In. dan tiba-tiba bayangan kematian Hae In berkelebatan di dalam fikirannya, dia tak mau lagi kehilangan kekasihnya itu dia tak mau Hae In pergi meninggalkannya. “hyung hyung …” Donghae masih tak bergeming dan bisikan bisikan dari tamu-tamu yang datang itu mulai terdengar. Donghae melihat sekitar dan seketika dia berlari keluar ruangan itu dan membuat semuanya terheran.

 

“khamsa hamnida Ahjumma” Hae In mengambil bunga matahari yang tetancap sempurna di pot coklat berukuran kecil tersebut. “ohh itu kan kantor tempat di mana Donghae oppa bekerja” Hae In melihat bangunan yang tak asing lagi di sebrang jalan. Dia mengenakan earphonenya dan berjalan menuju rumah Donghae yang tak jauh dari sana. Hae In berhenti di lampu merah dan memperhatikan bunga mata harinya yang dia bawa sedikit senyuman tergambar di wajahnya saat dia memikirkan Donghae akan menyukai bunga itu.

 

Donghae berlari keluar kantor di mana tempat ia bekerja itu, dia mengikuti instingnya yang entah akan kemana. Ternyata instingnya itu benar dia melihat Hae In sedang berdiri di depan lampu merah, Donghae tersenyum melihat bahwa Hae In masih hidup. Tapi di waktu bersamaan Hae In melihat seseorang menyebrang jalan dan dia mengikutunya, dia tak memperhatikan waktu jalan yang sebentar lagi berakhir. Yang melihat tersebut Donghae berlali ke arah Hae In “Hae In-ah awas” teriakan Donghae tak terdengar oleh Hae In. Hae In berjalan dan tiba-tiba klaksonan mobil mengalihkan perhatiannya dari bunga yang di bawanya itu. Hae In membulatkan matanya melihat mobil yang beberapa meter lagi akan menghantam tubuhnya, untungnya mobil itu cepat membelok dan tanpa di sadari ada mobil di belakang mobil tadi yang tak sempat berbelok. Hae In melepaskan pot bunga dari genggaman itu dan berhasil jatuh mengenai kakinya. Saat jarak mobil itu semakin dekat dan Hae In tak bergerak satu senti pun dari tempatnya Donghae datang menangkap Hae In yang berdiri mematung dan BRUGHHHHH…. Kecelakaanpun tak dapat di hindarkan. Donghae dan Hae In terpental cukup jauh. Donghae masih memeluk Hae In erat saat tubuhnya dan tubuh Hae In mendarat(?) di aspal dan tak lama cairan berwarna merah kental itu keluar dari tubuh Donghae dan Hae In.

 

“setidaknya ini lebih baik, aku akan terus berada di sampingmu kemanapun kau pergi” Lee Dong Hae

                                                           #######END######