Diproteksi: Falling Slowly (Part 1/?)

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

STORY OF Bella Wiramanditha

HAPPY READING^^

 

 

Bella Wiramanditha

Anak bungsu keluarga Wiramanditha yang terkenal akan proyek tambang emas terbesar ke 4 di dunia. Dia tinggal bersama dengan kakanya bernama Harun Wiramanditha sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan proyek yang di miliki keluarganya.

“bell jangan lupa susunya harus kau habiskan” teriak harun dari dalam kamarnya “hmmmm…” balas bella menggumam. Seperti biasa pagi hari di rumah besar Wiramanditha hanya ada harun dan bella yang dengan tenang memakan sarapannya, ayah dan ibunya mungkin sudah berangkat dari tadi pagi. Begitulah kedua orang tuanya pulang di saat bella dan harun sudah tertidur pulas, dan pergi di saat mereka belum bangun. “kak, tak usah mengantarku. Aku akan pergi bersama mimi” bella berucap saat kakanya harun sudah duduk manis di hadapannya “kau yakin ???” Tanya harun “hmm …” bella bergumam dan menganggukan kepalanya. “nona, mimi sudah berada di depan” ucap salah satu pembantu di rumah itu “ah suruh dia masuk saja bi…” titah bella dan pembantu itupun hanya menganggukan kepalanya mengerti “slamat pagi bell, slamat pagi ka harun” ucap mimi “itu sangat menggelikan mi…” ucap bella meneguk susu full cream nya “pagi mimi, ayo sarapan bersama??” ajak harun “ah tidak trimakasih, aku sudah sarapan di rumah” tolak mimi halus “baiklah ka aku pergi dulu yah” bella berdiri dari tempat duduknya dan mencium pipi kanan dan kiri kakaknya “hati-hati di jalan, obatnya sudah kau bawa?” Tanya harun “sudah, aku pergi” bella melenggang meninggalkan kakanya di tempat makan yang cukup besar itu sendirian.

 

SMA TARUNA Sekolah yang patut di perhitungkan, bukan hanya karna Siswa dan Siswinya yang berduit tapi juga karna prestasi mereka juga. Sekolah ini membuktikan tidak semua orang berada itu tak berotak yang hanya mengandalkan uang, salah satunya adalah Bella, dia termasuk orang berprestasi dalam binang matematika dia bahkan sering menyabet piala penghargaan untuk sekolahnya dan tak hanya bella hampir semua Siswa/Siswi Sekolah ini berprestasi di bidangnya masing masing. “bella, mimi” panggil seseorang saat mereka berjalan memasuki gerbang ‘megah’ SMA TARUNA bella dan mimi reflex menengokkan kepalanya ke arah suara tadi dan ternyata dia adalah gea. “kalian pergi bersama?” Tanya gea saat melihat bella dan mimi yang berjalan berbarengan “hm kami berangkat bersama” jawab mimi “mengapa tidak mengajakku?” Tanya gea “kalau aku mengajakmu, lantas hilman kau kemanakan??” Tanya balik mimi gea memanyunkan bibirnya sedangkan bella hanya tersenyum datar melihat kedua sahabatnya. “ge aku ke kelas duluan, nanti pulang aku tunggu di tempat parkir..” ucap hilman menghampiri gea dan pergi saat dia sudah menyampaikan ucapannya.  Mereka bertiga berjalan beriringan memasuki halaman awal sekolah elite ini. Kelas 2 IPA 1 adalah ‘sarang’ mereka  yang terbilang berprestasi dalam berbagai bidang termasuk mereka Bella, Mimi, dan Gea, 3 orang sahabat sejak mereka masih duduk di bangku sd. “mi nanti siang ada rapat direksi dengan ketua madding” ucap salah satu teman mereka dan mimi hanya mengangguk mengiyakan ucapan temannya tersebut. Mimi adalah seorang penulis, dia terkenal dengan tulisannya yang menurut bella itu mengagumkan sedangkan menurut Gea itu ‘memusingkan’. Dan Gea adalah kapten Cheerleaders basket yang terkenal akan kecerewetannya dan keeksisannya di  kelas 2 IPA 1 bahkan seSMA TARUNA mengapa? karna dia adalah ratu gossip di dalam kelas dan tidak di ragukan lagi karna setiap berita terpenting sampai tak penting sekalipun dia pasti tau hal itu. Dan Bella dia termasuk periang dan ramah, hampir semua siswa SMA TARUNA tahu bella entah itu karna kecerdasannya ataupun karana keramahannya. Bella duduk paling belakang sedangkan mimi berada di sebelah kanannya dan gea duduk di depan bella.

Teettttt

Bel masuk pun berdunyi, pertanda pelajaran pertama di mulai.

“slamat pagi anak-anak” seorang guru perempuan memasuki kelas 2 IPA 1 “pagi bu..” serentak semua murid menjawab “karna sekarang ibu ada urusan, kalian bisa mengerjakan buku paket halaman 132, ibu harap 2 jam pelajaran cukup untuk mengerjakan semua tugas ini, dan bella kau ibu beri tanggung jawab untuk tugas ini” ucap guru itu panjang lebar. Sedikit desisan dari beberapa siswa yang tak terima dengan tugas yang di berikan guru tersebut. Bella menganggukan kepalanya mengerti “baik ingat waktu kalian terus berjalan, tak ada gunanya merutuki ibu ataupun tugas itu, pokonya selesai tidak selesai kumpulkan di depan, mengerti” ucap guru tersebut “ya mengerti bu” balas murid serentak “baiklah ibu serahkan tugas ini padamu bell” tutup guru tersebut dan bernjak meninggalkan kelas 2 IPA 1.

2 jam sudah pelajaran pertama selesai “apa masih ada yang belum mengumpulkan” ucap bella di depan meja guru “sudah semua bell” hanya beberapa yang menjawab, yang lainnya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. “butuh bantuan bell” tawar seorang lelaki menghampiri bella yang terlihat kewalahan membawa 35 buku paket tebal, bella melihat kearah lelaki itu dan tersenyum “trimakasih Dan” ucap bella saat danu membantunya membawakan buku buku tersebut. “kamu gak ikutan olimpiade tahun ini bell?” danu membuka pembicaraan, sejak tadi mereka hanya diam dengan fikiran mereka masing-masing “ahh tidak aku akan memberi kesempatan pada adik kelas” jawab bella dengan sedikit tersenyum “ohh, tapi kenapa tak ikut saja, mencobanya lagi??” Tanya danu lagi dan sekarang hanya di jawab dengan gelengan kepala bella. “taruh di situ saja dan” ucap bella “sip…” danu menyimpan buku paket tersebut di antara buku paket lainnya, sekarang mereka berada di ruang guru cukup banyak guru yang berda di ruangan ini mungkin karna ini adalah jam pergantian pelajaran dan ada pula siswa dan siswi yang bernasib sama seperti bella dan danu yang membawa buku tebal milik teman-temannya untuk di simpan di salah satu meja tersebut. Bella dan danu segera keluar setelah menyimpan buku buku tadi, mereka kembali ke kelas yang jaraknya tak jauh dari ruang guru tadi. “bell… abell” DEG bella terdiam, dia ingat suara itu, dia ingat nama panggilan itu, orang yang berhak memanggilnya sepreti itu “bell kamu kenapa ??” Tanya danu saat melihat raut wajah bella yang tiba-tiba memucat “abell…” seseorang menarik tangan bella tetapi bella buru-buru melepaskan tangan tersebut dan segera berlali menuju kelasnya tanpa melihat siapa yang memegang tangannya tadi, tanpa melihatpun sebenarnya bella tahu siapa dia. Satu-satunya orang yang memanggilnya ‘abell’ ya dia tau bella tau. “bella……” danu sedikit berteriak saat bella dengan cepat meninggalkannya dengan seseorang yang dia tek kenal “kau mengenal bella ??” Tanya lelaki yang tadi memegang tangan bella “aku teman sekelasnya, kau siapa??” Tanya balik danu “aku… aku murid baru di sini” jawab lelaki itu ramah dan melihat ke arah bella yang sudah tak terlihat lagi “baik kalo begitu aku permisi dulu…” ucap lelaki itu lagi dan pergi meninggalkan danu yang masih terheran dengan kejadian tadi.

Bella memasuki kelasnya yang sedikit ribut itu masih dengan muka yang pucat, bella duduk kembali ke tempatnya dan menutup wajahnya dengan tangan mungilnya, tidak dia tidak boleh menangis hanya karna mendengar suara yang hampir 3 tahun tak ia dengar. Mimi yang melihat bella segera menghampirinya “bell kau sakit??” Tanya mimi memegang punggung bella bukan jawaban yang mimi dapatkan, melainkan sebuah isakan yang keluar dari bibir bella. Mimi yang menyadari itu segera memegang punggung bella dengan erat, untung saja suasana kelas saat ini sedikit ramai, jadi perhatian mereka tak tertuju pada dirinya dan bella “bell kau sakit??” Tanya lagi mimi dan tetap tak ada jawaban dari bella. Mimi yang mulai khawatir akhirnya memanggil gea “ge… gea..” gea menghampiri mimi dan bella yang menundukan badannya menutupi wajahnya “bella kenapa??” Tanya gea saat melihat bella, mimi hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu. “bell kamu kenapa??” Tanya gea sedikit mengguncang tubuh bella akhirnya bela mengangkat tubuhnya dan menghapus air matanya dan sedikit tersenyum “ahaha aku tidak apa-apa hanya sedikit pegal tadi membawa buku” ucap bella berbohong, mimi dan gea memperhatikan bella dalam-dalam “bell kau bohong…” ucap mimi melihat bella “bell kamu tidak apa-apa? Tadi wajahmu pucat saat orang itu memanggilmu” tiba-tiba saja danu datang dan menghampiri bella, mimi yang mendengar itu langsung menatap bella penuh tanya sama seperti gea “ada apa bell…?” Tanya lagi mimi kali ini dengan wajah yang menuntut, saat akan mengatakan tiba-tiba saja seorang guru masuk dan terpaksa para muridpun duduk di tempatnya masing-masing “maaf bapak cuman mau memperkenalkan seseorang. Dia adalah murid baru, dia pindahan dari Austria tapi dia asli orang Indonesia, baiklah Ryan silahkan masuk” tak lama setelah itu seorang murid lelaki memasuki kelas ini, sebagian besar murid perempuan memekik tertahan saat melihat murid baru itu adalah seorang lelaki, tetapi berbeda dengan Bella, Mimi, dan Gea. Mereka terlihat kaget dan tidak percaya, mimi dan gea segera melirik ke arah bella yang sekarang sedang menatap lekat lelaki yang berada di depan kelas tersebut “mi…” gea bergumam tak percaya sedangkan mimi masih menatap bella dengan tatapan yang sangat sulit di artikan “baiklah Ryan silahkan perkenalkan nama-mu” ucap guru tersebut “hai, nama ku Ryan Amandea kalian bisa memanggilku Ryan. Salam kenal” Ryan tersenyum dan memandang teman-teman barunya dan berhenti ketika dia melihat bella yang sedang menatapnya dengan lekat, ada sesuatu di balik pandangan itu, entahlah ryan tak tau apa artinya pandangan bella kepadanya. Entah itu marah, rindu, ah itu tidak mungkin. Bella tidak mungkin merindukan dirinya yang jelas-jelas sudah menghilang tanpa sebab 3 tahun yang lalu. “baiklah Ryan sekarang kau boleh duduk di belakang ikhsan” guru itu mempersilahkan Ryan untuk duduk terlebih dahulu dan melanjutkan pembicaraannya “baiklah, berhubung hari ini sekolah sedang mengadakan suatu acara, jadi para guru sebagian besar tidak bisa mengajar kalian. Dan bapak harap kalian bisa mengerti, kalian di bebaskan dari KBM tetapi kalian harus tetap berada di lingkungan sekolah, tidak boleh ada yang pulang sebelum jadwalnya mengerti..” “ya pak…” jawab murid serempak “bagus kalau begitu” guru itu keluar dan dengan sekejap saja banyak yang langsung menghampiri bangku Ryan bertanya tentang ini itu dan dengan sabarnya ryan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh teman-teman barunya. Berbeda dengan mimi dan gea yang memandang ryan dengan penuh kebencian, ya mereka amat sangat mengenal ryan. Teman bahkan bisa disebut sahabat masa lalu yang sangat berarti bagi bella dan dengan kejamnya dia –ryan- meninggalkan bella 3 tahun yang lalu tanpa alasan yang jelas dan itu semua berakibat fatal bagi kesehatan bella kala itu, dia bahkan enggan melakukan aktifitas sama sekali bahkan bisa di sebut bella adalah mayat hidup. “mi, antar aku ke UKS…” pinta bella dan langsung di setujui oleh mimi “bell, kau benar tak apa-apa?” Tanya mimi yang dibalas dengan anggukan dan senyuman dari bella “apa karna dia kau tadi menagis??” Tanya lagi mimi dan kali ini bella terdiam tak membalas perkataan mimi.

Satu jam pelajaran bella dan mimi habiskan di UKS, bella tak ingin kembali ke kelasnya. Dia belum siap menerima ini semua, melihat seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya bahkan sampai sekarangpun dan mimi mengerti akan perasaan bella saat ini dan mimi pun tak ingin mengganggunya ataupun bertanya pada bella. Mimi tak mau mempersulit keadaan, mimi hanya cukup menunggu waktu yang tepat agar bella mau menceritakannya, menceritakan perasaan yang sesungguhnya pada mimi. “ayo mi aku ingin ke kelas” ajak bella “kau yakin??” Tanya mimi tak percaya, mimi tau bella mungkin masih belum bisa menerima ini semua, ya bagai mana tidak tiba-tiba saja orang yang bella cintai ‘dulu’ datang di saat bella hampir melupakannya. Bella hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum kearah mimi.

Mimi dan bella memasuki kelas yang sekarang lebih sunyi di bandingkan tadi, bella segera duduk di kursinya dan di ikuti mimi “kau tidak apa bell??” Tanya gea bella hanya mengangguk dan tersenyum “hm aku tidak apa-apa” gea yang melihat itu hanya menatap bella dengan iba, gea tau bella sedang dalam keadaan ‘tidak baik-baik saja’ terkadang gea sedikit kesal dengan sikap bella yang tertutup kepada dirinya dan mimi tentang masalahnya, meskipun dia tau mengapa bella seperti ini tapi gea lebih ingin mendengar yang sebenarnya dari bella.

Sisa jam pelajaran, murid 2 IPA 1 di sibukan dengan urusannya masing-masing. Mimi sibuk dengan buku coretan-coretan tentang tulisannya, gea sibuk dengan gadgetnya dan bella masih sibuk menata hatinya dan perasaannya yang ingin sekali menangis melihat apa yang terjadi hari ini, bukan hanya ingin menangis, justru hati kecilnya ingin sekali berhambur ke dalam pelukan lelaki itu, bella benar-benar merindukan pelukan hangat lelaki itu bella merindukan genggaman tangannya, tatapannya, senyumannya dan semuanya, semuanya yang berada di diri lelaki itu.

Di sisi lain ryan masih menatap bella lekat, dia tau bella mungkin membencinya karna dulu dia meninggalkan bella tanpa alasan sama sekali, 3 tahun yang lalu. Ryan ingin sekali mengatakan yang sebenarnya tapi dia terlalu takut jika bella sudah benar-benar membencinya. Ryan masih menatap lekat bella, seakan bella adalah lukisan terindah yang sayang jika tak melihatnya meski hanya satu detik…..

 

TBC~~

IN HEAVEN

 

 

 

Gambar

 

 

 

IN HEAVEN

 

18 Agustus 2011

 

Namja itu terus memberikan penjelasan tentang proyek ciptaannya dan tim kerjanya, dia sekilas melihat I-Phone putihnya bergetar di atas meja presentasinya “Kim Hae In” nama itu terpampang jelas. Dia mengabaikannya dan terus mempresentasikan proyeknya tanpa tau sesuatu telah terjadi pada yeoja bernama Kim Hae In tersebut.

Semua orang bertepuk tangan saat namja itu selesai dengan presentasinya, mereka menyukai program rancangannya dan siap membantu untuk mengembangkan programnya. Dia membungkuk mengucapkan terima kasih kepada semua yang ada di dalam ruangan itu.

“hyung ada telpon untukmu” rekan kerjanya memanggil dan dia segera keluar dari ruang rapat yang sudah sepi “nugu?” tanyanya pada orang yang memberitahunya tadi “molla tapi sepertinya dari rumah sakit” namja itu mengerutkan keningnya dan segera menjawab telponnya “yoboseyo??” “apakan benar ini tuan Lee Dong Hae?” Tanya seseorang dari telpon itu, namja bernama Lee Dong Hae itu menganggukan kepalanya dan berkata “ya, saya Lee Dong Hae. Musun iriya?” “apa anda kenal dengan Agashi bernama Kim Hae In ??” tanyanya lagi “ya, saya mengenalnya…” “dia mengalami kecelakaan lalu lintas, dia tertabrak mobil dan meninggal seketika” belum selesai Donghae berbicara, dia sudah di kagetkan tentang kematian seseorang yang sudah hampir 3 tahun ini memenuhi pikirannya.

 

‘I’m going to leave now’

‘don’t leave’

‘I’m going to comeback so…’

‘liar liar’

‘no, don’t you know how much I love you’

‘can’t you show that love to me right now?’

‘I Love You’

‘can’t we love me again’

 

6 Juni 2012

 

Namja itu terbangun dari tidurnya, peluh mengucur dari keningnya, wajahnya trlihat sangat pucat. Donghae mengedarkan penglihatannya ke seluruh penjuru kamar yang bernuansa putih itu, wajahnya menunjukan bahwa dia benar-benar merindukan seseorang yang sudah pergi meninggalkannya. Donghae berjalan kaluar kamarnya mengambil botol air mineral di lemari pendinginnya, meminumnya dengan sekali teguk.

Donghae mengunci rumah kecilnya dan segera pergi menuju kantornya, setidaknya dia masih mempunyai tanggung jawab dengan program rancangannya agar sukses di pasaran.

“hyung berkas-berkas yang kau minta sudah aku simpan di meja” seorang namja berbicara sesaat sebelum Donghae masuk ke ruangan kerjanya “ne, gumawo” Donghae memasuki ruangannya, bersantai sebentar sebelum dia membaca dan melihat lihat laporan yang berada di mejanya tersebut.

Tak terasa jam sudah memnunjukan waktu makan siang, Donghae masih anteng(?) dengan berkas-berkasnya sampai seeorang mengetuk pintu ruang kerjanya  

TOK TOK TOK

“masuk” perintah Donghae dan tak lama seorang namja memasuki ruangannya “oh Kibum-ah waeyo?” Tanya Donghae saat melihat siapa orang yang tadi mengetuk pintu ruangannya dan kembali meneruskan pekerjaannya “anio, aku hanya mau mengingatkan mu sekarang kita ada rapat kecil dengan yang lain sekalian kita makan siang, hyung tidak lapar(?)” seakan tersadar Donghae menghentikan pekerjaannya dan tersenyum pada namja yang ada di hadapannya sekarang –Kibum- “ah aku lupa, baiklah aku membereskan ini dulu” Donghae membereskan kertas-kertas kerjanya “ya sudah aku tunggu di kantin hyung” Donghae hanya mengangguk mengiyakan jawabannya, Kibum keluar dari ruangan Donghae.

Donghae membereskar berkas-berkas yang sudah di pelajarinya dan memasukannya ke dalam laci meja kantornya, saat dia membuka laci mejanya dia melihat Fotonya bersama Kim Hae In dengan bingkai hitam “bogoshipeo Hae in-ah” Donghae mengambil foto tersebut dan mengusapnya, dia menyimpan foto tersebut di atas meja kerjanya. Sedikit tersenyum saat mengingat pengambilan foto itu di rumahnya ketika liburan musim dingin 2 tahun yang lalu. Jika dia tidak ingat tantang rapat dengan tim kerjanya mungkin dia akan lebih lama memandang foto tersebut dan mengingat kenangan-kenangan indah bersama Kim Hae In yeojachingunya.

Sedikit berlari Donghae keluar dari ruangannya dan segera menuju kantin kantor, di sana sudah terlihat tim kerjanya yang menunggunya. Donghae menghampir mereka “mianhae aku terlambat” donghae membungkukkan badannya sebelum duduk di sebelah Kibum.

Donghae dan tim kerjanya menghabiskan waktu di kantin, membicarakan program rancangan mereka, gelak tawa tak terlupakan rapat ini tidak terlalu formal ini lebih tepat di sebut sebagai diskusi.

 

10 Juni 2012

 

Donghae menghabiskan waktu akhir pekannya dengan berjalan – jalan di daerah rumahnya. Waktu seperti ini sangat jarang dia dapatkan mengingat akhir-akhir ini dia selalu sibuk dengan program rancangannya. Dia berbelok memasuki supermarket kecil untuk membeli air mineral sebelum melanjutkan kegiatannya. Dia menghampiri kasir untuk membayar air mineralnya, saat akan membayar air mineralnya, dia melihat anak kecil yang sepertinya menginginkan permen yang sedari tadi anak kecil itu lihat. Donghae mengambil permen itu dan memberikannya kepada anak kecil tadi setelah dia membayarnya. Donghae mengelus rambut anak kecil itu dan tersenyum, Donghae keluar dari supermarket itu dan duduk di kursi yang tersedia di depan supermarket itu. 

“ahjusi!!” Donghae melirik ke arah anak kecil yang tadi memanggilnya, ternyata anak kecil tadi, Donghae membenarkan duduknya menghadap anak kecil yang berdiri di samping kirinya  “Jika kau bisa kembali ke masa lalu, apa hal-hal yang paling ingin kau lakukan?” Donghae mengerutkan keningnya dan tiba-tiba bayangan senyuman Hae In bertebaran(?) di fikirannya, dia tersenyum mengingat senyuman Hae In yang sangat ia rindukan “itu, aku tak mau menghancurkan segalanya, menghancurkan sosok yang berharga bagiku. Ada begitu banyak hal yang aku ingin katan padanya” Donghae tersenyum pahit ketika mengingat kematian Hae In “hey bocah, mengapa kau bertanya seperti itu pada…” Donghae menghentikan ucapannya saat dia tidak melihat anak kecil tadi yang berada di sampingnya, Donghae berdiri dari duduknya melihat sekitar anak kecil itu sudah tidak ada.

 

 

KRINGGGGGGGG~~~

Donghae menggeliat mendengar alarem jamnya berbunyi, Donghae mematikan alarem yang berada di atas laci tempat tidurnya.  

Dia berjalan mengambil air mineral di dalam lemari pendingin yang tanpa sadar sudah banyak di penuhi foto-foto dirinya bersama Hae In,

TING TONG

Bel rumah berbunyi Donghae menghentikan tegukannya, melihat kearah pintu rumahnya. Donghae segera memakai jaket abunya dan segera membuka pintu rumahnya, dia sedikit menggerutu pasalnya ini masih jam 8 pagi siapa yang mengunjunginya sepagi ini. Donghae mebuka pintunya dan seketika senyumannya untuk menyambut tamu tersebut hilang di gantikan oleh ekspresi wajah terkejut dan tidak percaya. Donghae membulatkan matanya manakala tamunya tersebut tersenyum ke arahnya, merasa senyumannya tak di balas yeoja itu mengerucutkan bibirnya kesal karna namjachingunya tidak membalas senyumannya. Yeoja itu masuk tanpa permisi menubruk Donghae yang masih mematung di depan pintu, dia langsung menuju dapur dan meletakan belanjaan yang dia bawa di atas meja pantry, Donghae mengikutinya dan masih menatap HOROR pada seseorang yang berada di hadapannya, Donghae melihat dari atas sampai bawah kaki yeoja itu. Ya bagai mana tidak yeoja yang ada di hadapannya ini adalah Kim Hae In yeojachingunya yang 8 bulan yang lalu meninggal dunia dan sekarang ada di hadapannya “ahh wae, apa aku ini seperti hantu??” Hae In memanyunkan bibirnya melihat Donghae yang masih melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan “kauuu…” “kau tidak menyembunyikan seorang yeoja kan di sini” Hae In mengedarkan pandangannya dan tersenyum kecil, dia tau Donghae tidak akan berbuat itu dan meneruskan pekerjaannya(?) menyiapkan sarapan. Berbeda dengan Donghae yang masih belum percaya, dia melihat sekeliling rumahnya, aneh semua barang-barang tentang Hae In yang dia simpan ke dalam gudang kini sudah tersusun rapih di tempatnya semula, lukisan-lukisan Hae In bahkan foto-foto mereka yang sudah di simpan baik-baik olehnya pun terpampang rapih. Dia melihat kalender yang berada di atas lemari pendinginnya, aneh di kelender itu menunjukan bulan Agustus 2011. Dia melirik kea rah Hae In yang anteng dengan belanjaannya, tersenyum senang dan segera memeluk Hae In “yak oppa kau menghalangi pekerjaanku” pekik Hae In. Donghae masih tidak percaya dengan keadaan ini dia memeluk Hae In erat, dia tak ingin melepaskan pelukannya dia tidak memperdulikan pukulan-pukulan kecil dari Hae In agar melepaskan pelukannya. Donghae melepaskan pelukannya, sebenarnya tidak melepaskan karna tangn Donghae masih melekat di pinggang Hae In “benarkah ini kau Hae In-ah” Donghae menatap lekat mata Hae In, dan Hae In membalasnya dengan anggukan kepala. Merasa cukup mendapatkan jawaban dari Hae In, Donghae segera memeluk Hae In dan mengecup bibir tipis milik Hae In.

 

Hari ini Hae In mengajak Donghae bersepedah di sekitar sungai han, Hae In mengenakan dress putih selutut dan topi coklat yang menambah kesan manis pada dirinya. Dia sengaja datang lebih awal dan merasakan hembusan angin sore yang menyapa wajahnya dengan lembut. “Hae In-ah~” Hae In membuka matanya melihat ke arah Donghae. Hae In tersenyum melihat Donghae menghampirinya tapi seketika senyumannya memudar ketika melihat Donghae yang mengenakkan pakaian yang menurutnya ‘aneh’. Merasa di perhatikan Donghaemengerutkan keningnya “waeyo??” Donghae menghampiri Hae In “mengapa memakai baju seperti itu??” Hae In menunjuk baju yang di kenakan Donghae “we?? Kau mengajak bersepedah kan? Ya sudah aku mengenakan baju ini” jawab Donghae polos “kau yang aneh mengapa bersepedah memakai dress putih??” Tanya balik Donghae saat melihat pakaian yang di kenakkan Hae In “kita akan bersebepah santai bukan balapan sepedah” jawab Hae In dengan nada tinggi. Dia mengerucutkan bibirnya kesal karna donghae berpakaian seperti pembalap sepedah, kumplit dengan sarung tangannya. Donghae merasa bersalah dan membujuk Hae In agar memaafkannya. Dan akhirnya merekapun bersepedah setelah Donghae membujuk Hae In, mereka bersepedah megelilingi sungai han di sore hari gelak tawa pun tak terhindarkan meskipun mereka berada di sepedah yang berbeda.

 

Hae In hampir mati bosan, sudah lebih 11 gelas air putih yang ia teguk untuk menunggu Donghae. Jika dia tidak ingat bahwa yang menyuruhnya begini adalah Donghae dia pasti sudah meninggalkannya dari tadi.

Donghae memasuki restoran tempat dia dan Hae In janjian(?). Donghae mengedarkan pandangannya dan melihat yeojachingunya duduk membelakanginya. Hae In mengenakan dress hitam atas lutut dengan lengan pendek itu terlihat manis di mata Donghae. Donghae menghampiri Hae In perlahan, dan dengan santainya dia duduk di hadapan Hae In yang menunjukan wajah sebal. Donghae tersenyum melihat wajah Hae In dan segera memanggil pelayan. Donghae memesan makanan kesukaan Hae In dan itu sukses membuat Hae In tersenyum meskipun hanya sesaat. Tak lama music terdengar dari arah belakang Hae In. Hae In terkaget dan melihat ke arah belakang, dan tersenyum saat melihat pembawa gitar, biola dan terompet menyanyikan lagu kesukaannya “Boys 2 Man – I’ll Make Love To You” dan tak di sangka Donghae sudah Berlutut di hadapannya dan menyematkan cincin di jari manis Hae In. Hae In menatap cincin putih yang sudah bertengger manis di jarinya. Dia tersenyum dan segera memeluk Donghae.

 

Malam ini Hae In mengajak Donghae berbelanja, dia ingin sekali memasak bulgogi dan nasi kimchi kesukaannya. Dan mau tidak mau Donghae menemaninya.

Donghae mendorong troli yang penuh dengan bahan-bahan masakan dan beberapa cemilan kesukaannya dan Hae In. donghae berhenti mendorong troli ketika I-Phonenya bergetar, dia mengangkat telphonenya, sementara Hae In menghampiri kedai yang menyediakan bulgogi siap saji, “ahjumma boleh aku mencicipi ini?” Tanya Hae In “ne silahkan agashi” ucap ahjumma penjaga stand itu dan memotong motong bulgogi tersebut “hmmm mashita” Hae In berucap dengan mulut penuh dan mengacungkan jempolnya pada ahjumma tersebut. “oppa palli” Hae In sedikit berteriak memanggil Donghae yang berada jauh darinya. Donghae menutup telphonenya dan segera mendorong trolinya menghampiri Hae In yang berada di stand makanan “oppa coba ini” Hae In memberikan potongan bolgogi itu kepada Donghae, Donghae memakan Bulgogi itu dan mengacungkan kedua jempolnya tanda dia menyukainya “kalian pengantin baru yang serasi” ahjumma penjaga stan itu berucap dan dibalas dengan senyuman oleh Donghae dan Hae In. mereka meninggalkan stand itu dan melanjutkan berbelanja “haaaaa kepiting” pekik Hae In saat melihat tumpukan kepiting. Donghae hanya menggelengkan kepalanya melihat Hae In yang sudah berada di depan tumpukan(?) kepiting-kepiting yang masih bergerak gerak.

Donghae membelokan trolinya menuju Hae In

“Annyeong~” seseorang berdiri di pinggir Donghae dan menyapanya, ternyata dia adalah anak kecil yang Donghae lihat waktu di supermarket “oh kau~” pekik Donghae saat melihat anak kecil tersebut “senang melihatmu bahagia, yeojachingu mu pun terlihat bahagia. Kamu baik juga memanfaatkan waktu berharga mu yang kembai ke masa lalu” anak kecil itu melihat ke arah Hae In yang sedang asik memilih kepiting “apa maksudmu??” Tanya Donghae mengerutkan keningnya tak mengerti “masa lalu tidak akan bisa mengubah masa depan, jangan lupa” Donghae melihat kearah Hae In, dia tak mau kehilangan Hae In di saat seperti ini. Hae In melihat kea rah Donghae dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang rapih.

 

Hae In masih bergelut dengan kanvas dan koas yang berada di tangannya, dia melukis Donghae dan sesekali tersenyum saat membayangkan kebersamaannya bersama namja yang sudah hampir 3 tahun mengisi hatinya. Dia memandang sekilas lukisannya dengan earphone melekat di telinganya. Sebersit ide melewatinya(?) dia akan membawa lukisan itu pada Donghae.

 

Hari ini Donghae dan rekan tim kerjanya akan mempreentasikan program rancangannya. Tapi, Donghae masih bingung mendengar perkataan anak kecil kemarin. Dia membuka buku note keclnya berniat menghilangkan pikirannya tentang perkataan anak kecil kemarin. Dia melihat kalender mecocokan jadwal-jadwal yang akan dia kerjakan tapi tatapannya tertuju pada tanggal ini di sana tertulis ‘kematian Hae In’ seketika dia teringat akan perkataan anak kecil yang kemarin. Dan tiba-tiba saja wajahnya berubah pucat, tidak dia tidak mau kehilangan kekasihnya dia masih merindukan kekasihnya Hae In.

 

Hae In melangkahkan kakinya memasuki rumah Donghae, dia menyimpan lukisannya di atas meja, saat hendak membuka lukisannya itu Hae In melihat bunga yang berada di atas meja itu mati. Dia meletakan lukisan dan I-Phonenya dan segera mengambil bunga itu “kasihan sekali” Hae In melihat semua bunga yang berada di pot kecil itu mati semua. “aku akan menggantikannya dengan yang baru” Hae In tersenyum mengambil tasnya dan keluar untuk membeli bunga.

 

Donghae terus menghubungi handphone Hae In dan tidak pernah di angkat oleh Hae In “Hae In-ah kau di mana, cepat angkat telponnya” Donghae berbisik pada dirinya sendiri dan terus menghubungi Hae In “hyung sekarang waktunya” ucap seseorang menghentikan kegiatannya, Donghae hanya menganggukan kepalanya dan menyinpan I-Phone nya kedalam saku jasnya.

 

Semua orang yang di undang dalam rapat ini pun satu persatu masuk ke dalam ruangan ini. Rapatpun di mulai tetapi dari tadi Donghae hanya terdiam tak berucap satu katapun dia masih memikirkan Hae In. dan tiba-tiba bayangan kematian Hae In berkelebatan di dalam fikirannya, dia tak mau lagi kehilangan kekasihnya itu dia tak mau Hae In pergi meninggalkannya. “hyung hyung …” Donghae masih tak bergeming dan bisikan bisikan dari tamu-tamu yang datang itu mulai terdengar. Donghae melihat sekitar dan seketika dia berlari keluar ruangan itu dan membuat semuanya terheran.

 

“khamsa hamnida Ahjumma” Hae In mengambil bunga matahari yang tetancap sempurna di pot coklat berukuran kecil tersebut. “ohh itu kan kantor tempat di mana Donghae oppa bekerja” Hae In melihat bangunan yang tak asing lagi di sebrang jalan. Dia mengenakan earphonenya dan berjalan menuju rumah Donghae yang tak jauh dari sana. Hae In berhenti di lampu merah dan memperhatikan bunga mata harinya yang dia bawa sedikit senyuman tergambar di wajahnya saat dia memikirkan Donghae akan menyukai bunga itu.

 

Donghae berlari keluar kantor di mana tempat ia bekerja itu, dia mengikuti instingnya yang entah akan kemana. Ternyata instingnya itu benar dia melihat Hae In sedang berdiri di depan lampu merah, Donghae tersenyum melihat bahwa Hae In masih hidup. Tapi di waktu bersamaan Hae In melihat seseorang menyebrang jalan dan dia mengikutunya, dia tak memperhatikan waktu jalan yang sebentar lagi berakhir. Yang melihat tersebut Donghae berlali ke arah Hae In “Hae In-ah awas” teriakan Donghae tak terdengar oleh Hae In. Hae In berjalan dan tiba-tiba klaksonan mobil mengalihkan perhatiannya dari bunga yang di bawanya itu. Hae In membulatkan matanya melihat mobil yang beberapa meter lagi akan menghantam tubuhnya, untungnya mobil itu cepat membelok dan tanpa di sadari ada mobil di belakang mobil tadi yang tak sempat berbelok. Hae In melepaskan pot bunga dari genggaman itu dan berhasil jatuh mengenai kakinya. Saat jarak mobil itu semakin dekat dan Hae In tak bergerak satu senti pun dari tempatnya Donghae datang menangkap Hae In yang berdiri mematung dan BRUGHHHHH…. Kecelakaanpun tak dapat di hindarkan. Donghae dan Hae In terpental cukup jauh. Donghae masih memeluk Hae In erat saat tubuhnya dan tubuh Hae In mendarat(?) di aspal dan tak lama cairan berwarna merah kental itu keluar dari tubuh Donghae dan Hae In.

 

“setidaknya ini lebih baik, aku akan terus berada di sampingmu kemanapun kau pergi” Lee Dong Hae

                                                           #######END######

         

Not Him

Title : Not Him
Author : Park Min Jung

~~~~~~PMJ~~~~~~

“aku melihatmu bersama Min Ah tadi”
“aku menemaninya makan siang”
bagaikan di tindih oleh ribuan batu, hati ini seakan remuk rasanya. Bahkan hancur saat mendengar ucapan yang mulus keluar dari mulutnya. Aku tau ini bukan yang pertama, tapi sudah beberapa puluh kali dia melakukannya di hadapanku tepat di kedua bola mataku. Apa dia tidak menyadari akulah yang seharusnya dia temani, akulah yang harus dia cintai, dan akulah yang berhak mendapatkan kasih sayang darinya, bukan wanita yang bernama Shin Min Ah itu.
Aku benar – benar sudah tidak tahan lagi dengan sifatnya yang cuek, bahkan terlalu cuek terhadapku yang notabene adalah TUNANGANNYA. Awalnya aku menerima sifatnya dengan berharap ‘mungkin sifatnya akan berubah seiring berjalannya waktu’ tapi apa yang ku dapat ?? NIHIL, dia tetap bersikap cuek dan dingin kepadaku. Bahkan menatap mataku saat berbicara berduapun tidak pernah.

~~~~~~PMJ~~~~~~

“kau seharusnya marah padanya, kau adalah tunangannya bukan wanita abal – abal itu” selalu saja mendapat omelan kalau aku menceritakan kepada Min Jung tentang masalah kemarin, ya memang dialah tempat sampah(?) masalahku. Aku tau Min Jung begitu karna dia sangat sayang dan mengkhawatirkan aku. “aku tak mau dengar kau membelanya, ayolah Hye Ra ini sudah keterlaluan, ini tidak bisa di diamkan terus” seakan tau jalan fikiranku, dia menghela perkataanku. Dia tau aku pasti membelanya, ya membela namja yang ku cintai sampai kapanpun. “kau ini, aku mohon Hye Ra, tinggalkan dia. Aku tidak mau melihatmu menangis lagi karna namja brengsek itu” “dia tidak brengsek Min Jung~ah” “terus, terus saja kau bela dia. Apa kau tidak tau, kau seperti pajangan baginya. Pajangan yang tak penting untuk di lihat”
Deg… Perkataan Min Jung tadi benar – benar membuat hatiku nyeri. Apa benar aku ini pajangan untuknya?? Pajangan yang tak penting bahkan untuk di lihat sekalipun. Tapi kenapa ?? Kalau aku ini adalah sebuah ‘pajangan’ kenapa dia menerima perjodohan ini, kenapa dia seakan memberiku secercah cahaya yang aku harapkan. Cahaya yang akan menuntunku kepada hatinya, tapi ternyata apa yang ku dapatkan ??? Cahaya kosong harapan semu.

Tak terasa aku menangis lagi, menangis dalam pelukan Min Jung. Entah sudah berapa puluh ribu air mata yang aku keluarkan karnanya, menangis karna seseorang yang bahkan tidak akan pernah mungkin menghapus air mataku ini.
Untung saja kantin kampus sepi pada sore hari, hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol.
“sudah, lebih baik kau pulang ke rumahku. Aku tidak mau kau pulang ke rumah terkutuk itu” Min Jung mengusap rambutku. Aku menggelengkan kepalaku dan menghapus air mata yang tersisa(?) di kedua pipiku “tak apa, aku akan pulang saja” aku tersenyum ke arahnya, sebenarnya bukan tersenyum melainkan BERUSAHA tersenyum di hadapannya. Ku lihat mimik muka Min Jung berubah seakan ingin protes dengan keputusanku, “tenang aku takan melakukan hal – hal yang bodoh Min Jung~ah, aku akan langsung tidur tanpa menunggunya pulang lagi” aku buru – buru menghela protesnya yang akan dia lontarkan, aku menatapnya dengan tatapan ‘aku akan baik – baik saja percayalah’. “kau yakin ?? Ya sudah aku antar kau kerumah” ajaknya, aku mengangguk pasti. Aku tak ingin melihatnya khawatir lagi.

Dalam perjalanan aku dan Min Jung benar – benar diam, aku melihat keluar jendela sedangkan Min Jung fokus membawa mobilnya ke rumahku bersama namja itu.
“ingat jangan sampai aku melihatmu menangis lagi, kalo aku melihatmu menangis aku akan membunuhnya” aku terkekeh mendengar ucapannya dan mengangguk “kau tidak akan masuk dulu??” tanyaku saat ku lihat dia masih asik duduk di dalam mobilnya “tidak, aku tak mau bertemu dengan namja brengsek itu” “tenang saja dia pasti belum pulang” bujukku “tidak terima kasih Hye Ra lain kali saja” dia menggelengkan kepalanya “baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan, dan terimakasih karna sudah mengantar ku” “mmm, ya sudah aku pulang dulu, kau ingat dengan kata-katamu, jangan tunggu dia sampai malam” ucapnya sambil menjalankan mobilnya menjauh dariku.
Aku menatap rumah bercat putih itu dengan tatapan lelah, aku masuk setelah melihat mobil Min Jung menghilang(?) di belokan. Aku memasuki rumah itu dan melihat mobilnya sudah tersimpan rapih di garasi, tumben sekali dia sudah pulang bahkan ini masih jam 3 sore. Aku membuka pintu kayu bercat coklat tua yang berdiri sempurna, sepi dia di mana ?? Aku menaiki tangga mencarinya, mungkin dia ada di kamarnya. Saat sudah berada di depan pintu kamarnya, entah mengapa hati ini menolak untuk membukanya, membuka pintu yang ada di hadapanku. Tapi tetap saja tanganku memegang gagang pintu itu dan ketika aku membuka pintu itu benar saja, benar apa yang kata hatiku ucapkan!!! ya aku melihatnya sedang berciuman dengan wanita itu Shin Min Ah.
Tubuhku rasanya kaku, hati ini, mata ini enggan melihat pemandangan itu, tapi mengapa tubuh ini tidak bisa bergerak satu sentipun. Tak terasa aku menangis lagi, ya aku menangis karna dia lagi. Menangis karna kebodohanku, Min Ah melihatku dan dia langsung melepaskan tautan bibirnya dengan namja itu. aku melemparkan senyuman pahit ke arahnya “Min Ah-ya we??” aku mendengarnya, mendengar suaranya yang berbeda apabila dia berbicara denganku. Min Ah mengangkat dagunya menunjuk ke arahku yang berdiri tegap di ambang pintu dan tak lama dia pun melihat ke arahku. Aku melihatnya, melihat tepat di kedua bola matanya, entahlah matanya tak dapat aku artikan entah dia terkejut karna kehadiranku atau mungkin dia sangat terganggu karna mengganggu ‘pekerjaannya’. “maaf aku mengganggu kalian” akhirnya setelah sekian lama aku terdiam aku akhirnya mengeluarkan suaraku, suara parau, suara yang sangat menyedihkan. Aku keluar dan menutup pintu kamarnya, aku tersenyum getir dan rasanya lututku benar – benar lemas, aku berjalan menuruni tangga dengar air mata yang sudah membanjiri pipiku. Suaranya berbeda jika dia berbicaraku, suaranya terasa sangat hangat dan sarat akan kasih sayang berbeda denganku suaranya begitu dingin dan menusuk ke hati. aku terduduk di antara anak tangga rumahku, aku menangis mengingat kejadian tadi. Benar apa kata Min Jung aku ini hanya pajangan baginya, pajangan yang bahkan tidak pernah dia lihat apa lagi dia sentuh, benar-benar miris sekali nasibmu Kang Hye Ra. Jadi untuk apa kau setiap hari menunggunya pulang hingga tengah malam kalau nyatanya dia tidak menganggapmu ada. untuk apa aku bermimpi akan bahagia dengannya, hidup bersamanya mencintai seseorang yang bahkan tidak akan pernah mencintai diriku. ini mungkin jalan yang terbaik bagiku, aku tidak mau hidup dengan air mata yang terus mengalir hanya karna menunggunya untuk mencintaiku. Aku akan meninggalkannya, meninggalkan semua impian indahku bersamanya, impian yang aku kira akan terwujud bersamamu Cho Kyuhyun.

(LIRIK_LAGU) Super Junior – From U (ELF)

Gambar

This song is dedicated to the world’s biggest fan club
The “ELF”, my girls, my angels.
urin, su nyeon jeone cheoeum manna
cheos nune sarange ppajyeobeoryeotgo
Baby, naega eodil gadeun machi
geurimjacheoreom nae gyeote seo itgo

saranghandaneun ge ttaeron
jeungmyeonghal ge neomu neomu manhna
apeul ttaeedo naega muneojil ttaedo
geunyeomani naege nama inneungeol

Baby baby baby baby baby
uri jeoldae heeojiji malja
Oh my lady lady lady lady lady
naega jeongmal neoreul saranghanda
Shawty shawty shawty shawty shawty
ojik neoya nareul seontaeghan geon
naui nunmulkkajido, jageun misokkajido..ani? 

neorobuteo oneungeoya

naega neoui sogeul neomu manhi sseogyeoseo
beolsseo neulgeo beolyeossdae geuleon mal hajima

amuri bwado naegen neomankeumman yeppeun
saram jeoldae sesange tto eobseo (geuleon maldo hajima)

I don’t know why you keep staying with me
tto nan nege neomu mojalaseo mianhae
geujeo mideobwa. naega naega jalhalge
Baby baby baby baby baby
uri jeoldae heeojiji malja
Oh my lady lady lady lady lady
naega jeongmal neoreul saranghanda

Shawty shawty shawty shawty shawty
ojig neoya nareul seontaeghan geon
naui nunmulkkajido, jag-eun misokkajido
ani? neorobuteo oneungeoya
neobakke eobsdan mari neomu ppeonhae boyeodo
eotteohge nae maeumeul boyeo jugeni
uri ssaul ttaedo itgo miwojuggetda malhaedo
ne gaseumeun imi algo itjanhni

neorang na duri
joheun geotman gachi bogo gachi meokgo gachi jeulgyeo
deudgo ulgo utgo areumdabgiman haetdeon naldeul
naega muneojiji anke mideojugo gyeoteul
jikyeojwoseo gomapta jeongmal gomawo

Baby baby baby baby baby
uri jeoldae heeojiji malja
Oh my lady lady lady lady lady
naega jeongmal neoreul saranghanda
Shawty shawty shawty shawty shawty
ojik neoya nareul seontaeghan geon
naui nunmulkkajido, jageun misokkajido
ani? neolobuteo oneungeoya

Baby baby baby baby baby